CARA MAKAN |Ramen merupakan salah satu hidangan mi berkuah yang sangat populer dan identik dengan kuliner Jepang. Hidangan ini dikenal luas karena cita rasanya yang kompleks, penyajiannya yang menggugah selera, serta kemampuannya beradaptasi dengan berbagai preferensi rasa. Secara umum, ramen terdiri atas tiga elemen utama, yaitu kaldu, mi, dan topping. Ketiga komponen ini saling melengkapi sehingga menciptakan pengalaman makan yang khas dan sulit dilupakan.
Kaldu menjadi jiwa dari semangkuk ramen. Terdapat beberapa jenis kaldu yang paling umum digunakan, seperti tonkotsu, shoyu, miso, dan shio. Setiap jenis kaldu memiliki karakter rasa yang berbeda, mulai dari gurih pekat hingga ringan dan segar. Mi ramen sendiri terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan kansui, yaitu larutan alkali yang memberikan tekstur kenyal sekaligus warna kekuningan pada mi. Sementara itu, topping berfungsi sebagai pelengkap yang memperkaya rasa dan tampilan, seperti irisan daging chashu, telur rebus berbumbu, rumput laut nori, dan berbagai sayuran.
Meskipun saat ini ramen dianggap sebagai simbol kuliner Jepang, sejarahnya tidak sepenuhnya berasal dari negeri tersebut. Ramen diyakini memiliki akar dari Tiongkok dan mulai dikenal di Jepang pada awal abad ke-20. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jepang mengadaptasi dan mengembangkan ramen sesuai dengan selera lokal. Proses evolusi inilah yang menjadikan ramen sebagai hidangan ikonik dengan variasi regional yang sangat beragam di berbagai daerah Jepang.
Berdasarkan rasa dasar kaldunya, ramen dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis utama. Jenis pertama adalah Tonkotsu Ramen. Ramen ini berasal dari wilayah Kyushu dan terkenal dengan kuahnya yang kental serta berwarna putih susu. Kaldu tonkotsu dibuat dengan merebus tulang babi dalam waktu yang sangat lama, bahkan bisa mencapai belasan jam. Proses ini menghasilkan tekstur kaldu yang creamy dengan rasa gurih yang kuat. Tonkotsu ramen sering disajikan dengan mi tipis dan topping chashu babi yang lembut.
Jenis kedua adalah Shoyu Ramen, yang sering dianggap sebagai bentuk ramen klasik khas Tokyo. Kaldu shoyu menggunakan kecap asin sebagai dasar rasa, sehingga menghasilkan kuah berwarna cokelat bening dengan cita rasa gurih yang seimbang. Biasanya, shoyu ramen memiliki rasa yang tidak terlalu berat, sehingga cocok bagi penikmat ramen pemula. Kaldu ini umumnya dibuat dari kombinasi kaldu ayam, tulang, dan seafood ringan.
Selanjutnya, terdapat Miso Ramen yang berasal dari Hokkaido. Ramen ini menggunakan pasta miso fermentasi sebagai bumbu utama, sehingga menghasilkan kuah yang lebih tebal dan kaya rasa. Miso ramen dikenal memiliki cita rasa gurih yang mendalam dengan sedikit sentuhan manis. Karena berasal dari wilayah dengan iklim dingin, miso ramen sering disajikan dengan topping yang melimpah, seperti jagung manis, mentega, dan sayuran tumis untuk memberikan kehangatan ekstra.
Jenis keempat adalah Shio Ramen. Shio berarti garam, dan sesuai namanya, ramen ini menggunakan garam sebagai dasar bumbu utama. Kuah shio cenderung ringan, bening, dan terasa segar. Kaldu yang digunakan biasanya berasal dari ayam, ikan, atau seafood. Shio ramen menonjolkan rasa alami dari bahan-bahan yang digunakan, sehingga cocok bagi mereka yang menyukai rasa sederhana namun bersih.
Selain keempat jenis utama tersebut, terdapat pula berbagai variasi ramen lainnya yang tidak kalah menarik. Salah satunya adalah Tsukemen, yaitu ramen dengan konsep penyajian terpisah antara mi dan kuah. Mi disajikan dalam keadaan dingin atau suhu ruang, sementara kuahnya lebih kental dan pekat. Cara menikmatinya adalah dengan mencelupkan mi ke dalam kuah sebelum dimakan, sehingga rasa kuah terasa lebih intens.
Jenis lainnya adalah Tantanmen, ramen dengan cita rasa pedas yang terinspirasi dari masakan Sichuan. Ramen ini biasanya menggunakan kuah berbasis wijen dengan tambahan cabai dan daging cincang berbumbu. Rasa pedas, gurih, dan sedikit creamy menjadi ciri khas tantanmen yang digemari oleh pencinta makanan berbumbu kuat.
Ada pula Hiyashi Chuka, yaitu ramen dingin yang populer saat musim panas. Berbeda dengan ramen berkuah panas, hiyashi chuka disajikan dengan mi dingin dan aneka topping segar seperti irisan mentimun, tomat, telur, dan daging. Hidangan ini memberikan sensasi menyegarkan dan menjadi pilihan tepat saat cuaca panas.
Topping pada ramen juga memiliki peranan penting dalam menciptakan kelezatan. Beberapa topping yang umum digunakan antara lain chashu, yaitu irisan daging babi atau ayam yang dimasak hingga empuk, ajitsuke tamago atau telur rebus berbumbu dengan kuning telur setengah matang, menma berupa rebung yang difermentasi, daun bawang, serta nori. Kombinasi topping ini tidak hanya memperkaya rasa, tetapi juga menambah nilai estetika pada sajian ramen.
Secara keseluruhan, ramen bukan sekadar mi berkuah, melainkan representasi dari kreativitas dan budaya kuliner Jepang. Keberagaman jenis, rasa, dan cara penyajian membuat ramen mampu dinikmati oleh berbagai kalangan. Inilah yang menjadikan ramen tetap relevan dan digemari, baik di Jepang maupun di berbagai belahan dunia.
