Caramakan.com – Yogyakarta selalu punya cara unik untuk membuat siapa pun jatuh cinta. Bukan hanya lewat deretan candi, sudut-sudut seni, atau keramahan warganya, tetapi juga melalui makanan yang hadir di waktu-waktu tak biasa. Ketika siang berganti malam dan hiruk-pikuk wisata mulai mereda, justru di situlah denyut lain Kota Gudeg terasa paling hidup: wisata kuliner malam.
Bagi Jogja, malam bukanlah waktu untuk beristirahat sepenuhnya. Lampu jalan yang temaram, aroma asap bakaran yang menguar di sudut gang, serta antrean pembeli yang sabar menunggu giliran menjadi pemandangan lazim. Kuliner malam di Jogja telah menjelma menjadi budaya tersendiri—bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan ritual sosial yang menyatukan warga lokal, mahasiswa, hingga wisatawan dari berbagai penjuru.
Memasuki tahun 2026, tren kuliner malam Jogja kembali ramai diperbincangkan. Media sosial dipenuhi potret nasi gudeg berlumur sambal pedas, sate kambing yang ditusuk jeruji besi, hingga olahan kikil dan koyor dengan kuah gurih menyengat. Menariknya, sebagian besar kuliner ini bukanlah pendatang baru. Mereka adalah warung-warung lama yang bertahan puluhan tahun, menjaga resep turun-temurun, dan terus relevan di tengah gempuran makanan modern.
Berikut lima kuliner malam Jogja yang bukan hanya viral, tetapi juga menyimpan cerita panjang dan cita rasa yang konsisten, layak masuk daftar wajib coba saat berkunjung ke Yogyakarta.
Gudeg Mercon Bu Tinah: Ketika Gudeg Tak Lagi Manis
Nama Gudeg Mercon Bu Tinah sudah lama identik dengan sensasi pedas ekstrem di Jogja. Di tengah anggapan umum bahwa gudeg identik dengan rasa manis, Bu Tinah justru menghadirkan perlawanan rasa yang berani. Gudeg di sini bukan sekadar pelengkap, melainkan panggung utama bagi sambal mercon yang melimpah dan menyengat.
Potongan nangka muda dimasak hingga empuk, menyerap bumbu dengan sempurna. Di atasnya, krecek pedas dan tetelan sapi disiram sambal cabai rawit yang jumlahnya tak main-main. Setiap suapan menghadirkan ledakan pedas yang membuat dahi berkeringat, namun justru itulah yang dicari para penikmatnya.
Berlokasi di Jalan Asem Gede No. 8, Cokrodiningratan, Jetis, Gudeg Mercon Bu Tinah mudah dijangkau dari Malioboro maupun Pasar Kranggan. Warung ini baru mulai buka pukul 21.00 WIB dan biasanya tutup sekitar pukul 01.00 dini hari. Harga seporsinya berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000, sudah termasuk minuman teh hangat. Datang lebih awal menjadi kunci, karena saat akhir pekan antrean bisa mengular panjang.
Gudeg Bromo Bu Tekluk: Legenda Rasa Gurih Pedas Sejak 1984
Jika Gudeg Mercon Bu Tinah dikenal lewat sensasi pedasnya, maka Gudeg Bromo Bu Tekluk menawarkan keseimbangan antara gurih, pedas, dan basah yang khas. Berdiri sejak 1984, warung ini menjadi saksi perjalanan kuliner malam Jogja lintas generasi.
Gudeg di sini disajikan dalam versi basah, dengan kuah yang lebih cair dan rasa yang tidak terlalu manis. Seporsi gudeg berisi nangka basah, ayam suwir, telur bacem, tempe atau tahu, serta krecek pedas yang terkenal “nonjok”. Pedasnya tidak membakar, tetapi cukup tajam untuk membangkitkan selera makan, terutama saat disantap larut malam.
Gudeg Bromo Bu Tekluk berlokasi di Jalan Affandi No. 2A, kawasan Gejayan, Sleman. Lokasinya strategis dan dekat dengan area kampus, menjadikannya favorit mahasiswa. Warung ini mulai buka pukul 23.00 WIB hingga menjelang subuh, sekitar pukul 05.00. Dengan harga seporsi mulai Rp13.000 hingga Rp20.000, tak heran tempat ini hampir tak pernah sepi.
Sate Klathak Pak Bari: Kesederhanaan yang Menghasilkan Kejujuran Rasa
Di antara hiruk-pikuk kuliner modern, Sate Klathak Pak Bari berdiri dengan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatannya. Keunikan sate ini terletak pada penggunaan jeruji besi sepeda sebagai tusuk sate, menggantikan tusuk bambu seperti pada sate umumnya. Jeruji besi membuat panas merata hingga ke dalam daging, menghasilkan sate yang matang sempurna.
Daging kambing muda hanya dibumbui garam dan merica, tanpa saus kacang atau kecap. Kesederhanaan ini membuat rasa alami daging kambing benar-benar menonjol—juicy, empuk, dan minim bau prengus. Sate biasanya disajikan bersama gulai kambing hangat yang gurih, menciptakan kombinasi rasa yang seimbang.
Sate Klathak Pak Bari berlokasi di Pasar Wonokromo, Jalan Imogiri Timur, Bantul, sekitar 12–14 kilometer dari pusat Kota Jogja. Warung ini mulai buka pukul 18.30 hingga tengah malam. Harga sate berkisar Rp5.000–Rp7.000 per tusuk, dan seporsi lengkap biasanya terdiri dari sekitar 10 tusuk sate.
Oseng Mercon Bu Narti: Surga bagi Pencinta Pedas Ekstrem
Bagi pencinta pedas sejati, Oseng Mercon Bu Narti adalah destinasi yang nyaris wajib. Warung ini dikenal sebagai pelopor oseng pedas ekstrem di Jogja. Menu andalannya adalah oseng kikil yang dimasak dengan sambal cabai rawit melimpah, menghasilkan rasa pedas, gurih, dan sedikit berminyak yang khas.
Tekstur kikil yang kenyal berpadu dengan cabai yang “meledak” di mulut menciptakan pengalaman makan yang intens. Meski pedasnya terkenal ganas, level kepedasan tetap bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli.
Berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan No. 107, Ngampilan, sekitar 1,5 kilometer dari Malioboro, Oseng Mercon Bu Narti mengusung konsep lesehan kaki lima yang sederhana. Warung ini biasanya buka mulai pukul 17.00 hingga tengah malam atau sampai habis. Harga per porsi berkisar Rp25.000–Rp30.000.
Sego Koyor Bu Parman: Cita Rasa Malam yang Bertahan Sejak 1968
Sego Koyor Bu Parman adalah bukti bahwa kuliner malam Jogja memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak 1968, warung ini konsisten menyajikan nasi dengan koyor—urat sapi—yang dimasak dalam kuah santan pedas nan gurih.
Koyor dimasak hingga empuk namun tetap kenyal, menyerap kuah dengan sempurna. Seporsi sego koyor biasanya disajikan dengan sambal terasi, sayur asem, dan taburan bawang goreng, menciptakan harmoni rasa gurih, pedas, dan segar.
Warung ini berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No. 111, Gondomanan. Area parkirnya cukup luas dan tempat duduk lesehan membuat pengunjung betah berlama-lama. Sego Koyor Bu Parman mulai buka pukul 22.00 hingga sekitar pukul 03.00 atau 04.00 dini hari. Harga seporsinya berkisar Rp17.000–Rp25.000.
