Caramakan.com – Gulai ayam selalu punya tempat istimewa di meja makan keluarga Indonesia. Hidangan berkuah santan kental dengan aroma rempah yang kuat ini bukan sekadar lauk, melainkan bagian dari cerita panjang tradisi kuliner Nusantara. Di banyak rumah, gulai ayam sering dihadirkan saat akhir pekan, kenduri kecil, atau ketika keluarga ingin menikmati masakan hangat yang mampu menyatukan semua anggota di satu meja. Kuahnya yang gurih, kaya bumbu, dan berwarna kuning keemasan selalu berhasil membangkitkan selera sejak sendokan pertama.
Secara umum, gulai ayam dikenal sebagai hidangan kari khas Indonesia. Meski sering diasosiasikan dengan masakan Minang, gulai ayam juga hadir dalam berbagai versi di Jawa dan daerah lain, dengan karakter rasa yang sedikit berbeda. Ada yang lebih pedas, ada pula yang cenderung ringan dan creamy. Namun satu hal yang sama: gulai ayam selalu mengandalkan santan dan rempah sebagai jiwa utama masakannya. Resep ini menggunakan 1 ekor ayam dengan berat sekitar 1 hingga 1,5 kilogram, dipotong menjadi 8 sampai 12 bagian, sehingga pas untuk dinikmati bersama 4 hingga 6 porsi keluarga.
Perjalanan memasak gulai ayam dimulai dari pemilihan bahan utama. Ayam segar menjadi kunci awal. Sebelum dimasak, ayam dilumuri dengan jeruk nipis dan garam selama kurang lebih 15 menit, lalu dibilas hingga bersih. Langkah sederhana ini sering dianggap sepele, padahal sangat penting untuk menghilangkan bau amis dan membuat rasa ayam lebih bersih saat berpadu dengan kuah santan. Ayam yang sudah bersih akan lebih mudah menyerap bumbu dan menghasilkan tekstur daging yang nikmat.
Santan menjadi elemen berikutnya yang tak kalah penting. Untuk mendapatkan cita rasa gulai yang autentik, digunakan sekitar 1 liter santan kental yang berasal dari perasan 1 sampai 2 butir kelapa tua. Santan kental inilah yang akan memberikan kekayaan rasa dan tekstur lembut pada kuah. Jika ingin lebih praktis, santan kental bisa dikombinasikan dengan santan encer atau air, terutama pada tahap awal memasak. Perpaduan ini membantu ayam matang sempurna sebelum kuah diperkaya dengan santan kental di tahap akhir.
Aroma khas gulai ayam tidak lepas dari kehadiran aneka rempah aromatik. Daun salam, daun jeruk yang disobek, serai yang digeprek, serta lengkuas menjadi fondasi aroma yang kuat dan menggoda. Rempah-rempah ini akan dilepaskan perlahan saat ditumis bersama bumbu halus, menciptakan wangi yang memenuhi dapur dan menjadi pertanda bahwa masakan tradisional tengah diracik dengan penuh perhatian.
Masuk ke bagian bumbu halus, inilah inti dari karakter gulai ayam. Bawang merah dan bawang putih menjadi dasar, dipadukan dengan cabai merah besar yang jumlahnya bisa disesuaikan dengan tingkat kepedasan selera keluarga. Kemiri sangrai memberikan rasa gurih alami, sementara kunyit bakar menyumbangkan warna kuning cantik sekaligus aroma khas. Jahe dan ketumbar bubuk melengkapi komposisi rempah, menghadirkan rasa hangat dan sedikit pedas yang seimbang. Semua bumbu ini dihaluskan hingga benar-benar lembut, baik menggunakan blender maupun ulekan tradisional, agar mudah menyatu dengan kuah.
Sebelum memasak, persiapan yang rapi akan sangat membantu proses di dapur. Semua bumbu yang sudah dihaluskan disiapkan di satu wadah, ayam yang telah dibersihkan ditiriskan, dan santan dipisahkan antara santan encer dan santan kental. Dengan persiapan yang matang, memasak gulai ayam menjadi lebih terarah dan menyenangkan, tanpa tergesa-gesa.
Tahap memasak dimulai dengan memanaskan 3 hingga 4 sendok makan minyak di dalam wajan besar atau panci. Bumbu halus kemudian ditumis hingga harum selama sekitar 5 sampai 7 menit. Proses ini sangat penting karena menentukan kedalaman rasa gulai. Bumbu yang ditumis dengan sabar akan mengeluarkan minyak alami dan aroma rempah yang lebih tajam. Setelah bumbu harum, masukkan serai, lengkuas, daun salam, dan daun jeruk, lalu tumis kembali selama 2 sampai 3 menit hingga aromanya semakin kuat.
Ayam kemudian dimasukkan ke dalam tumisan bumbu. Aduk perlahan hingga seluruh permukaan ayam terbalut bumbu dan warnanya mulai berubah. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 5 menit. Pada tahap ini, ayam belum perlu dimasak hingga empuk, cukup sampai bumbu meresap dan daging ayam mengencang.
Langkah berikutnya adalah menuangkan sekitar 500 ml air atau santan encer ke dalam panci. Masak dengan api sedang selama kurang lebih 20 menit hingga ayam setengah empuk. Tahap ini memberi waktu bagi bumbu untuk meresap ke dalam daging ayam dan menciptakan kaldu yang kaya rasa. Sesekali aduk perlahan agar ayam tidak menempel di dasar panci.
Setelah ayam setengah empuk, barulah masuk ke tahap penyempurnaan yang menentukan tekstur akhir gulai. Santan kental dituangkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk pelan. Teknik ini penting agar santan tidak pecah dan kuah tetap halus serta mengilap. Api dikecilkan, lalu gulai dimasak selama 20 hingga 30 menit hingga ayam benar-benar empuk, kuah mengental, dan minyak santan mulai keluar ke permukaan.
Di tahap akhir, rasa gulai dikoreksi dengan menambahkan garam, gula, dan kaldu bubuk secukupnya. Beberapa orang juga menambahkan asam kandis atau daun kunyit untuk memberi sentuhan rasa khas, terutama jika ingin nuansa Minang yang lebih kuat. Setelah rasa dirasa pas dan kuah mencapai kekentalan yang diinginkan, api dimatikan dan gulai ayam siap disajikan.
Gulai ayam paling nikmat disajikan dalam keadaan panas, ditemani nasi putih hangat. Untuk pelengkap, sambal dan lalapan seperti timun segar atau daun singkong rebus sering menjadi pasangan serasi. Perpaduan rasa gurih, pedas, dan segar ini menciptakan pengalaman makan yang lengkap dan memuaskan. Tak heran jika gulai ayam kerap menjadi menu andalan saat keluarga berkumpul.
Sebagai masakan rumahan, gulai ayam juga sangat fleksibel. Jumlah cabai bisa disesuaikan, santan bisa dibuat lebih ringan atau lebih kental, dan jenis ayam pun bisa diganti. Banyak orang memilih ayam kampung karena teksturnya yang lebih padat dan rasa kaldunya yang lebih kuat. Meski membutuhkan waktu memasak sedikit lebih lama, hasilnya sering dianggap sepadan.
Memasak gulai ayam bukan hanya soal mengikuti resep, tetapi juga tentang merawat tradisi. Setiap sendok kuahnya menyimpan cerita tentang dapur rumah, kebersamaan keluarga, dan kekayaan rempah Nusantara. Dengan teknik yang tepat dan kesabaran saat mengolah santan, gulai ayam akan selalu menjadi hidangan yang dirindukan, dari generasi ke generasi.
